February 10, 2008

Ikhwahfillah ada peluang beasiswa dari Qatar Charity
untuk para ikhwah S1 dan S2 yang masih kuliah.

Diutamakan untuk kampus-kampus seperti
UI, ITB, UGM IPB, UNS, UNJ, ITS, UNAIR, UNESA.
Kampus-kampus diluar itu coba saja dimasukkan.

Disediakan untuk sekitar 200 orang.
Syaratnya berprestasi dan kurang mampu.

Untuk ukuran berprestasi bisa ditunjukkan lewat CV
dan Transkrip nilai. CV lebih bagus jika dalam bahasa Inggris.
Jangan lupa fotonya ya. Sementara untuk ukuran kurang
mampu akan diurus belakangan. Yang penting datanya masuk
saja dulu.

CV beserta foto dan Transkrip nilai semuanya dikirim ke e-mail:
to : mhermawanin@yahoo. com
cc : aping_akhw@yahoo. com
cc : adji_biotek@ yahoo,com

Afwan sebelumnya info ini harus difollow up segera.
Baru saja ana hubungi PIC-nya beliau bilang
Senin ini akan diajukan data-datanya.
So, mohon bisa segera dikirim paling lambat
hari Senin 11 Februari 2008.

Jika antum baru membaca e-mail ini dan
terlambat, coba saja dimasukkan CV-nya.
Mudah-mudahan masih bisa diusahakan.

Mohon bantuannya untuk mendistribusikan
kepada ikhwah lain yang memerlukan info ini.

Demikian infomasinya. Jazakumulloh khoir.

GLOBAL EXCHANGE

January 22, 2008

informasi exchange dari british council

Kami mencari para relawan untuk berpartisipasi dalam program Global Xchange.

Global Xchange adalah program pertukaran pemuda berusia 18-25 dari berbagai negara untuk memberikan kesempatan bekerja sama, mengembangkan dan saling bertukar keterampilan, serta memberikan kontribusi praktis yang diperlukan oleh suatu komunitas tertentu. Selama 6 bulan, peserta akan tinggal dan bekerja berpasangan (satu dari masing-masing negara).

Program Global Xchange ini akan dimulai dari bulan Maret sampai September 2008. Relawan akan tinggal dan bekerja untuk tiga bulan di sebuah komunitas di Inggris (Maret – Juni 2008) dan diteruskan di Indonesia selamatiga bulan (Juni – September 2008).

Simak keterangan program sebelum mengisi formulir pendaftaran.

Pendaftaran akan ditutup pada hari Kamis, 31 January 2008, pukul 16:00 WIB.

Kami menyarankan Anda untuk mengirimkan formulir pendaftaran melalui email ke alamat berikut GX@britishcouncil.or.id .

Anda juga bisa mengirimkan aplikasi melalui post ke British Council (Global Xchange), Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Tower II, Lantai 16, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52 – 53, Jakarta 12190.

Hanya kandidat relawan terpilih yang akan mendapat pemberitahuan resmi dari kami dan pengumuman akan kami muat melalui website ini.

Mereka yang terpilih akan mengikuti Assessment Day pada tanggal 14 – 17 Februari 2008. Tempat akan diberitahukan kemudian.

Kami menawarkan kesempatan yang sama bagi semua orang dan mendorong para pelamar dari semua lapisan masyarakat. Kami menjamin wawancara bagi disabled people yang memenuhi persyaratan untuk posisi ini.

Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut atau telepon +62 21 515 5561.

http://www.britishcouncil.org/id/indonesia-society-global-exchange.htm

sepotong kisah masa lalu

January 22, 2008

“Ayo Tong, kita sholat dulu. Mumpung boardingnya masih lama…”, kata teman saya.
“wah mas, tumben ngajakin sholat. Kok kemarin selama di Praha gak pernah kelihatan sholat?”, saya membalasnya.
“yah, ini khan udah kembali ke negri sendiri. Ya sholat lah…”, teman saya balas menimpali.

Percakapan tersebut terjadi di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta empat tahun silam. Ketika itu, saya dan serombongan duta wisata jawa tengah sedang menunggu pesawat menuju semarang. Kami baru kembali dari lawatan ke republik ceko, sebagai utusan misi kebudayaan. Rombongan kami berjumlah sebelas orang. Empat dari kami adalah pegawai dinas pariwisata jawa tengah. Sisanya adalah duta wisata, semacam putri Indonesia, dan pelajar berprestasi.

Selama satu minggu lawatan kami di negeri barat itu, saya merasakan banyak perbedaan. Di negara yang mayoritas pendudukanya adalah nonmuslim, keimanan kami betul-betul diuji. Dari sebelas orang, hanya satu orang yang beragama katholik. Satu hal yang paling terasa adalah ketika masuk waktu sholat. Di Indonesia, kita dapat dengan mudah mengetahui kapan tiba waktu sholat. Posisi Indonesia yang berada di daerah tropis, membuat perbandingan siang dan malam relatif sama sepanjang tahun. Akibatnya, waktu sholat dapat dengan mudah ditentukan. Kami berada di ceko pada awal musim gugur. Memang tidak begitu jauh berbeda dengan yang saya rasakan di Indonesia. Hanya saja waktu fajar dan petang bergeser satu jam. Saat itu matahari terbit pukul tujuh padi, tenggelam pukul tujuh malam. Untuk menentukan waktu sholat, sebenarnya dengan melihat bayangan, kita dapat mengetahuinya. Namun selama sepekan kami di sana, kami merasakan sinar matahari hanya di hari terakhir. Itupun sore hari. Akhirnya saya mengambil keputusan, untuk mementukan waktu sholat, saya menganalogikan dengan waktu sholat di Indonesia. Ditambah sekitar satu jam agar lebih yakin.

Nah, suatu ketika, kami menghabiskan waktu seharian penuh. Kami berjalan-jalan seputar kota tua (Old Town Square) hingga menjelang petang. Saya kebingungan ketika hendak melaksanakan shalat. Di mana saya akan shalat? Ditambah lagi saya tidak tahu arah. Tidak tahu mana arah utara. Cuaca tidak mendukung saat itu. Langit mendung menutupi pancaran sinar matahari. Apalagi saat itu musim gugur. Matahari tidak berada tepat di atas. Alhamdulillah, akhirnya kami mampir di rumah makan Indonesia. Pemilknya berasal dari Kalimantan. Dia sudah tinggal di Praha selama kurang lebih lima tahun. Dilihat dari namanya, pastilah dia seorang muslim. Setelah saya mengonfirmasi kepada tour guide, saya memberanikan diri untuk meminta izin melaksanakan sholat.

Ketika saya mengutarakan maksud saya, dia agak heran. Lebih tepatnya kebingungan. Dia bingung karena tidak ada ruang yang bisa digunakan untuk sholat. Saya merasa lebih bingung lagi ketika saya menanyakan arah kiblat. Dia menjawab dengan ragu, ”sepertinya ke arah sana…”, sembari menunjuk ke satu arah. Akhirnya dengan niat menghadap kiblat lillahi ta’ala, saya menggunakan sebuah bilik kecil. Bilik ini biasanya digunakan untuk jamuan dua orang. Setelah saya selesai sholat, gantian pendamping saya yang melaksanakan sholat. Anggota rombongan kami yang lain tidak bergerak. Kalau yang wanita, saya bisa memahami, mungkin sedang datang tamu bulanannya.

Demikian pula ketika kami melaksanakan kunjungan-kunjungan di hari-hari berikutnya. Keterbatasan waktu dan ketidaktersediannya tempat, membuat saya sholat di kendaraan ataupun setelah sampai di penginapan. Jarang sekali terlihat dari rombongan kami yang melaksanakan sholat. Terutama yang laki-laki. Teman saya pun demikian. Suatu ketika, teman sekamar saya mengatakan, “tong, sebelum tidur sholat dulu…”
“iya mas, ni baru mau sholat. Lha, njenengan kok gak sholat?”, balas saya.
“nah itu, makanya jangan tiru aku…”, jawabnya.

Sampai akhirnya, kami kembali ke Indonesia dan percakapan tersebut terjadi. Tanda tanya besar pada diri saya. Apakah kondisi umat Islam kita seperti ini? Memang tidak bisa dipukul rata. Tepat sekali jika dikatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada tingkat keimanan seseorang. Seperti halnya bulan ramadhan. Pada awal bulan, umat Islam sangat rajin untuk datang ke masjid, melaksanakan shalat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, dan sebagainya. Shaf-shaf selalu penuh. Bahkan sampai memasang atap terpal sebagai tambahan. Alasannya simpel, karena yang lain juga ke masjid. Makin bertambah hari, ada kemajuan. Kemajuan shaf tepatnya. Majelis ilmu mulai sepi.

Meskipun lingkungan berpengaruh, kekuatan ruhani diri kita adalah yang utama. Jika kita sudah memiliki benteng yang kokoh, insyaAllah, gempuran musuh tidak akan mampu menembus pertahanan kita. Semoga tulisan ini dapat membantu menguatkan hati kita, mengingatkan bahwa kita memiliki keleluasaan kesempatan untuk beribadah tidak seperti di belahan bumi lain. Istiqamah dalam beribadah haruslah terus dipertahankan. Persiapan dan bagi diri kita sendiri dan keluarga kita. Kita tidak akan tahu apa yang akan menanti kita di depan. Manusia hanya dpat berusaha, Allahlah yang menentukan hasilnya. Wallahua’lam.

 

dimuat di kolom oase iman eramuslim

http://eramuslim.com/atk/oim/8118100452-sepotong-cerita-masa-lalu.htm?other

info beasiswa

December 22, 2007

dari seorang kawan seperjuangan

Tolong disebarkan untuk mereka yang berhak dan membutuhkan. Lebih
lengkap
dapat dilihat di http://www.lpi-dd.net

Sekolah Unggulan, berasrama dan bebas biaya, membuka pendaftaran

SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah tingkat menengah berasrama
dan
bebas biaya yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani
(LPI)
Dompet Dhuafa. Didirikan pada tahun 2004, sekolah ini telah memiliki
siswa
didik berjumlah 137 untuk 4 angkatan.

Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan dhuafa yang
berprestasi dari seluruh Indonesia ini digagas untuk meningkatkan
harkat
dan derajat kaum dhuafa melalui program pendidikan dan pembinaan yang
komprehensif dan berkesinambungan. Diharapkan, setelah melalui proses
pendidikan dan pembinaan di SMART EI, setiap siswa memiliki bekal
berkarya
untuk bangsa, negara dan agamanya.

Proses seleksi hingga kedatangan calon siswa, serta pendidikan selama
berada di kampus SMART EI, tidak dipungut biaya apapun.

Persyaratan Umum
1) Berasal dari keluarga dhuafa (sesuai kriteria Dompet Dhuafa )
2) Laki-laki
3) Lulus/Tamat SD atau sederajat
4) Bersedia untuk mengikuti program belajar 5 tahun atau hingga
selesai
5) Memeroleh izin dari orang tua/wali
6) Memiliki prestasi akademik, dengan kriteria
7) Mendapat Rangking 1-5 di Kelas IV—VI
Rata-rata Nilai Rapor minimal 7,0 dan Rapor tidak ada nilai 5
9) Memiliki prestasi kegiatan pendukung, seperti olah raga, kesenian,
organisasi, atau keterampilan Bersedia mengikuti seluruh tahapan
seleksi
sesuai dengan ketentuan yang berlaku
10) Berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular

Persyaratan Khusus
1) Mengisi formulir pendaftaran calon peserta seleksi
2) Fotokopi rapor kelas IV — VI yang telah dilegalisir oleh
sekolah asal.
3) Fotokopi ijasah/STTB/ STK
4) Fotokopi piagam penghargaan/ sertifikat
5) Surat keterangan tidak mampu dari Dewan Kesejahteraan Masjid
(DKM).
6) Surat Keterangan Gaji/Penghasilan orang tua/wali dan/atau anggota
keluarga yang menopang/ikut membantu pendapatan keluarga dari RT
atau RW
atau Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) setempat.
7) Surat pernyataan/izin mengikuti pendidikan di SMART EI dari orang
tua
Fotokopi rekening listrik 2 bulan terakhir
9) Fotokopi KTP/Surat Keterangan Domisili Tetap dari RT atau RW.
10) Fotokopi Kartu Keluarga/KK.
11) Pas Foto Calon Peserta ukuran 4 X 6 sebanyak 4 lembar.

Waktu dan Tempat Pendaftaran
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 01 Januari sampai dengan tanggal 28
Februari 2008. Peserta dapat mendaftarkan diri di di Panitia Daerah
yang
terdekat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Panitia Nasional Seleksi SMART Ekselensia Indonesia
Bumi Pengembangan Insani,
Jl. Raya Parung Bogor Desa Jampang Kec. Kemang
Kabupaten Bogor—Jawa Barat 16330
Telp. 0251-610817 /610 818 Ext 11
http://www.lpi-dd.net

Panitia Daerah Seleksi SMART Ekselensia Indonesia
Daerah Seleksi : Bali
Bapak Hendry Sulistiono
LAZ DSM BALI
Jl. Diponegoro No. 157 Sangrah, Denpasar – Bali
Telp: 0857 3711 1100/ 0813 3812 3124/ 0361-855 7285

Daerah Seleksi : Banten
Ibu Sifa/ Bapak Ade
KONSORSIUM PEMBAHARU BANTEN
Jl. KM Idris No. 54 Neglasari Timur Rt 04/ Rw 13 Benggala, Serang
Banten
42117
Telp: 0856 9236 4906/ 0254-209392

Daerah Seleksi: Bogor
Bapak Setia Budi/ Asep Nurhalim
ETOS BOGOR
Jl. Babakan Tengah RT 02/ Rw 08 No. 107 Desa babakan Tengah Kecamatan
Darmaga 16680
Telp: 0818 0895 5849/ 0813 1515 0768

Daerah Seleksi: Jakarta
Bapak Abdurrahman
ETOS JAKARTA
Jl. Kedoya No. 39 Rt 01/ Rw 02 Pd. Cina Depok 16424
Telp: 0813 1084 5934

Daerah Seleksi: Gorontalo
Bapak Sumantimaku
YAYASAN AYATUL IKHWA
Jl. Limboto Raya No. 15 Ds. Tuladenggi Kec. Telaga Biru Gorontalo
96181
Telp: 0813 1659 2022/ 0435-838950

Daerah Seleksi: Bandung
Bapak Yudi Supriatna
DOMPET DHUAFA BANDUNG
Jl. Pasirkaliki No. 143 Lantai II Bandung – Jawa Barat 40173
Telp: 0813 2299 9211/ 022-6032281

Daerah Seleksi: Semarang
Bapak Efendi Nugroho
ETOS SEMARANG
Jl. Timoho III No. 30 Tembalang Semarang- Jawa Tengah
Telp: 0815 7509 0400/ 0817 954 1858/ 024-76482311

Daerah Seleksi: Surabaya
Ibu Nurul Aisyah
ETOS SURABAYA
Jl. Arif Rahman Hakim No. 58 B Sukolilo Surabaya-Jawa Timur
Telp. 0817 934 0271/ 031-71074803

Daerah Seleksi: Banjarbaru
Bapak Qomarudin Sukri
INTELLECTUAL MOSLEM YOUTH COMMUNITY (IMYCo)
Jl. Putri Junjung Buih Gg. Kelinci II No. 4 Banjar Baru-Kalsel 70511
Telp. 0812 9933 284/ 0511-7751720

Daerah Seleksi: Pontianak
Bapak Duin/ Kiryan
DOMPET UMMAT
Jl. Tanjungsari NO. 40 Pontianak-Kalimanta n Barat
Telp: 0561-7032360/ 735978

Daerah Seleksi: Balikpapan
Bapak Kamaludin
DOMPET DHUAFA KALTIM
Jl. Mr. Iswahyudi No. 10 Rt 56 Sepinggan Gunung Bahagia Balikpapan –
Kaltim
Telp: 0813 1761 6260/ 0542-7209738

Daerah Seleksi: Lampung
Bapak Juperta Panji Utama
LAZ LAMPUNG PEDULI
Jl. S. Parman 19 Palapa Tanjung Karang Pusat, Bandar lampung 35113
Telp: 0815 4048 877/ 0721-267582

Daerah Seleksi: Tual-Ambon
Bapak Musalim Temawut
YAYASAN DARUL ISTIQOMAH
Jl. Tanah Putih Utara No. 3 Rt 03/ Rw 04 Kel. Lodar Tual – Maluku
Tenggara
Telp: 0852 4301 2050/ 0916-21705

Daerah Seleksi: Kupang
Bapak Muhsin Thalib
YAYASAN IBADURRAHMAN
Jl. Keuangan Negara No. 32 Kupang – NTT
Telp: 0813 3941 7280/ 0380-882046

Daerah Seleksi: Sorong
Bapak Daeng Risabang/ Said Karim
SDIT AL- IZZAH
Komplek Masjid Agung Al- Akbar Sorong – Papua Barat
Telp: 0813 4390 9221/ 0813 4441 6886

Daerah Seleksi: Jayapura
Bapak Juandi
YAYASAN AS-SALAM PAPUA JAYAPURA
Jl. Raya Abepura No. 3A Entrop Jayapura Selatan 99224
Telp: 0813 4440 3303/ 0967-551904

Daerah Seleksi: Pekanbaru
Bapak Dwi Purwanto
LAZ SWADAYA UMMAH
Jl. Tuanku Tambusai Perkantoran Mella Lt. 2 Blok G No. 5 Pekanbaru
Riau
Telp: 0813 7834 3431/ 0761-572314

Daerah Seleksi: Makassar
Bapak Anwar
ETOS MAKASSAR
Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10 Tamalanrea-Makassar 90245
Telp: 0813 4292 5665/ 0411-4772803

Daerah Seleksi: Banggai
Bapak Hidayat Mondarfa
FORUM KOMUNIKASI REMAJA MASJID BANGGAI
Jl. P. Komodo No. 39 Kel. Simpong Kec. Luwuk Kab. Banggai Sulawesi
Tengah
Telp: 0815 2476 2220/ 0461-324093

Daerah Seleksi: Kendari
Bapak Lamalesi
YAYASAN BINA DHUAFA SULAWESI TENGGARA
Perumahan Dosen Blok P No. 8 Anduonohu Kendari Sulawesi Tenggara
Telp: 0813 8146 8445/ 0401-392481

Daerah Seleksi: Padang
Bapak Firmansyah
DOMPET DHUAFA SINGGALANG
Jl. Veteran No. 17 padang 25116
Telp: 0751-823 5775/ 705 4086

Daerah Seleksi: Palembang
Ibu Desi/ Ani
DOMPET SOSIAL INSAN MULIA
Jl. Kapten Anwar Sastro No. 20 Komplek Masjid Baitul Miraj Palembang
30129
Telp: 0813 7346 3825/ 0711-7076437

Daerah Seleksi: Medan
Bapak Ir. Simatupang
LAZ PEDULI UMAT WASPADA
Jl. Brigjend Katamso No. 1 Medan 20151 Medan – Sumatera Utara
Telp: 0813 6144 6225/ 061-4511936

Daerah Seleksi: Yogyakarta
Bapak Untoro Wahyu/ Bapak Syafi’i
LEMBAGA ADVOKASI PENDIDIKAN YOGYAKARTA (LAPY)
Jl. Kaliurang Km 6 Pandega Padma II/ 15 Ds. Sinduadi Kec. Mlati Kab.
Sleman
DIY
Telp: 0817 5455 393/ 0274-885127

——————–

———————————–
Fahdi Faaz
Teknik Arsitektur UGM 2004
Ketua Forum Alumni Pelajar Islam SMA 1 Cilacap 2005-2006
Pengisi Rubrik Keliling Kota Harian KOMPAS Yogyakarta
Penerima Beasiswa Prestasi Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri 2006-2008
mobile phone : 0856 4340 1856
email : king_fahd_arch@yahoo.com ; fahdi_faaz@yahoo.co.uk
greendezign.wordpress.com

AKSI SIMPATIK HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA

Oleh : Fahdi Faaz[1]

Hari ahad, 9 desember, pukul 10 pagi hari. Mentari yang menyinari Kota Jogjakarta cukup terik. Langit sangat cerah. Tidak ada awan sedikitpun yang terlihat. Di tengah jalan, terlihat seorang laki-laki mengenakan jas hitam, topi berbentuk telinga tikus, serta moncong kerucut berbentuk merah, menenteng sebuah tas bertuliskan ”uang rakyat”. Di lehernya terapat sebuah tali yang ujungnya berakhir di tangan seorang laki-laki yang mengenakan papan bertuliskan KPK. Sekitar tiga puluh mahasiswa dan mahasiswi yang lain, sibuk mengangkat poster, membagi stiker, buku tentang korupsi, dan pin kepada pengguna jalan. Kaos hitam yang mereka kenakan menyerap panas lebih banyak lagi. Akan tetapi, tulisan ”LAWAN KORUPSI!” berwarna merah menyala di punggung mereka, membangkitkan semangat mereka untuk tidak menghiraukan panas yang menyengat tersebut. Mereka tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengadakan aksi simpatik dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada hari ahad itu.

 


 

Sejak korupsi ditetapkan oleh PBB sebagai kejahatan kemanusiaan luar biasa (extraordinary humanity crime), berbagai upaya dilakukan untuk melawannya. Aksi simpatik ini merupakan salah satu diantaranya. Aksi ini dilaksanakan di Jalan Abu Bakar Ali, sekitar tiga ratus meter sebelah timur Stasiun Besar Yogyakarta. Dalam aksi ini, sebagian mahasiswa bertugas untuk membawa poster sederhana. Poster ini berisi kecaman terhadap para koruptor dan tuntutan kepada pemerintah agar menindak tegas para koruptor. Sebagian yang lain membawa spanduk besar bertuliskan ”SAY NO TO CORRUPTION!”. Sisanya berjuang menyusup diantara kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti, menebarkan senyum, mengajak bicara pengguna jalan, sambil membagikan stiker, buku, dan pin bertuliskan “Aku Bukan Koruptor!”.

Banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika mengikuti aksi ini. Di perjalanan, saya melihat seorang perempuan seusia anak sekolah menengah atas, dengan asyiknya membaca buku tentang korupsi itu. Padahal dia sedang membonceng sepeda motor, dan dia tidak berpegang pada apapun ketika membonceng. Ada lagi ketika saya membagikan stiker di bahu selatan jalan, dari bahu utara jalan ada dua orang laki-laki yang kemudian memanggil saya. Rupanya orang tersebut tertarik dengan apa yang kami bagikan. Saya pun segera menghampiri dua orang tersebut, sambil waspada melintasi deretan kendaran yang siap melaju.

Hampir sebagian besar pengguna jalan memberi apresiasi positif terhadap aksi yang kami lakukan. Ada yang kemudian memberi semangat kepada kami, ada pula yang meminta tambahan stiker ataupun pin. Namun tidak semua orang peduli dengan aksi kami. Beberapa kali tawaran saya ditolak langsung. Meskipun sudah saya katakan bahwa aksi ini adalah aksi simpatik terhadap penolakan korupsi, dan dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia.

Sebelum aksi kami berakhir, kami mengadakan long march kecil mengitari bekas gardu listrik peninggalan zaman penjajahan. Kami berjalan beriringan sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan serta meneriakan tuntutan agar para koruptor diadili dan dihukum seberat-beratnya. Aksi kami akhiri dengan pernyataan sikap bersama yang dibacakan oleh Oce Madril, dari Pusat Kajian Anti Korupsi. Dalam pernyataan sikap ini, dinyatakan bahwa meskipun aksi ini kecil, namun hal inilah bentuk nyata yang dapat kami lakukan sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi bangsa dan negara. Predikat negara terkorup di dunia masih melekat erat mengiringi nama Indonesia. Aksi ini hanyalah sebagai sarana kecil untuk mengajak masyarakat untuk menyadari bahaya korupsi. Serta sebagai sarana untuk mengingatkan pemerintah bahwa perjuangan melawan korupsi harus terus menerus dilakukan.

Korupsi sudah bukan hanya tanggung jawab penegak hukum saja, tetapi tanggung jawab semua elemen masyarakat. Kesadaran masyarakat untuk menjadikan korupsi sebagai public enemy harus selalu ditanamkan. Aksi kecil ini merupakan salah satu caranya. Sebagai penutup, aksi ini hanyalah salah satu upaya kecil untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.


[1] Mahasiswa Arsitektur UGM, Aktivis Mahasiswa, Peserta Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis-Nurul Fikri

RAMP HALTE BUS TRANS-JOGJA: UNTUK SIAPA ?

Oleh: Fahdi Faaz

Peserta PPSDMS Nurul Fikri

Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Semenjak akan diberlakukannya bus Trans-Jogja, pemerintah langsung melakukan berbagai persiapan. Yang paling terlihat adalah dengan adanya pendirian halte bus. Halte bus inilah yang nantinya diharapkan sebagai satu-satunya tempat bus berhenti untuk menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Harapannya bus Trans-Jogja dapat beroperasi setelah halte bus ini sepenuhnya selesai dibangun.

Memperhatikan desainnya, kita akan teringat pada halte bus untuk busway Trans-Jakarta. Bentuknya ramping memanjang, sejajar dengan jalan. Material yang digunakan adalah logam sebagai rangka pembentuknya dan kaca sebagai bidang penutupnya. Terkesan sangat modern. Namun halte bus trans-Jogja ini memiliki beberapa perbedaan dengan halte bus Trans-Jakarta. Pertama, nuansa lokal Jogja masih dapat kita temui di halte ini. Atap miring yang digunakan di beberapa halte, mengingatkan kita dengan rumah tradisional Jawa yang kita kenal dengan panggang pe.

Kedua, dominasi warna coklat pada material aluminium yang digunakan membuatnya terlihat lebih dekat dengan alam. Berbeda dengan warna abu-abu pada material halte bus Trans-Jogja yang didominiasi warna abu-abu. Ketiga, busway Trans-Jakarta memiliki jalur khusus dan calon penumpang masuk dari arah kanan. Sedangkan bus Trans-Jogja nantinya tidak memiliki jalur khusus dan calon penumpang tetap naik dari arah kiri. Seperti halnya halte bus Trans-Jakarta, lantai halte ini lebih tinggi dari muka jalan, dengan harapan penumpang tidak kesulitan ketika akan memasuki bus. Untuk mencapainya pun disediakan tangga dan ramp.

Nah, perbedaan selanjutnya adalah ramp. Ramp adalah suatu bidang miring yang menghubungkan dua ketinggian yang berbeda dengan sudut kemiringan tertentu (lebih landai dari kemiringan tangga). Ramp yang ada di halte bus Trans-Jakarta sangat landai. Hal ini sesuai dengan standar ramp untuk aktifitas manusia. Kemiringan ramp yang digunakan untuk aktifitas manusia menggunakan perbandingan 1:7. Artinya untuk mencapai ketinggian satu meter, maka jarak mendatar yang dibutuhkan adalah tujuh meter. Sebagai perbandingan, kemiringan ramp yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan misalnya mobil adalah 1:8. Contohnya bisa kita saksikan di gedung parkir ataupun di basement gedung yang digunakan sebagai tempat parkir.

Dari pengamatan yang saya lakukan, ramp di halte bus Trans-Jogja ini sama sekali tidak memenuhi persyaratan tersebut. Hasil pengamatan saya menunjukkan, untuk menuju ke ketinggian lantai halte yang 70-80 cm, jarak mendatarnya hanya 3,1 meter. Ini berarti kemiringannya hanya 1:3. Bahkan ada halte yang kemiringan rampnya sama dengan kemiringan tangga. Idealnya untuk mencapai ketinggian tersebut, jarak mendatar yang dibutuhkan adalah sekitar 4,9-5,6 meter. Kenapa kemiringan ramp ini penting? Sebenarnya untuk siapa ramp itu dibuat? Apakah betul-betul dibuat untuk mereka yang difabel? Atau hanya sekedar formalitas persyaratan perancangan bangunan?

Pada dasarnya, ramp dibuat untuk kemudahan akses bagi kaum difabel. Jika memang diperuntukan bagi kaum difabel maka kemiringan ramp tersebut harus dibenahi karena masih terlalu terjal. Misal suatu saat nanti ada seseorang yang menggunakan kursi roda dan hendak naik bus. Ketika menaiki ramp, ternyata kemiringannya terlalu besar, sehingga orang tersebut tidak dapat menaikinya. Padahal orang tersebut sendirian, dan tidak ada yang dapat menolongnya. Begitu pula jika yang akan menggunakannya adalah seorang kakek renta yang berjalan dibantu tongkat. Tentunya kakek tersebut akan kesulitan untuk menaikinya. Ramp yang seharusnya mempermudah akses malah menjadi penghalang akses. Mumpung belum terlanjur terbangun semua, sebaiknya rancangan ramp ini ditinjau kembali.

Ramp tersebut sebenarnya tidak hanya disediakan bagi para kaum difabel. Semua orang yang normal pun dapat menggunakannya. Jika kita merasa lelah untuk menaiki tangga misalnya. Kemudian ada falisitas ramp yang bisa diakses oleh semua orang. Tentunya kita tidak keberatan untuk menggunakannya. Selama ramp tersebut telah memenuhi persyaratan desain yang standar. Rancangan yang mampu mengakomodasi semua kepentingan seperti ini kerap disebut universal design.

cerita pendek ahad pagi (2)

November 13, 2007

Kereta baru menempuh setengah perjalanan antara stasiun Cilacap kota dengan stasiun Gumilir, ketia tiba-tiba ada seorang laki-laki muda datang. Masih muda. Mungkin berkisar delapan belas tahun umurnya. Anak itu berjalan di depanku dan berhenti pada jarak kurang dari dua meter. Dia menghadap ke timur dan berbicara dengan dua dari empat orang anak perempuan yang duduk berhadapan. Diihat dari perwakannya, kira-kira mereka seumur dengan si laki-laki tadi. Bangku mereka tepat di seberang bangku yang diduduki kakak dan temanku. Tidak begitu jelas apa yang diucapkannya,tapi yang pasti, laki-laki tadi mengajak dua temannya itu untuk pindah ke gerbong yang lain. Mungkin dia mendapatkan tempat yang lebih luas sehingga mereka bisa berkumpul bersama.

Melihat ajaknanya itu, dua perempuan yang duduk tepat di samping jendela segera bersiap untuk pindah. Aku melirik ke arah Fajar dan tersenyum. Ah, akhirnya ada tempat duduk kosong. Dan letaknya pun sangat cocok karena aku masih bisa mengawasi kakak dan keponakanku.

Segera setelah dua anak perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, aku menghampiri dua anak perempuan yang tersisa di bangku tadi. Sedikit basa basi, aku bertanya pada mereka, apakah masih ada tempat kosong, meskipun secara kasat mata sudah jelas kosong. Perempuan yang duduk menghadap searah perjalanan kereta mengatakan hanya ada satu tempat kosong. Ternyata satu tempat itu sudah dipesan untuk temannya yang nanti naik di stasiun Gumilir. Dua gadis tadi duduk berhadapan. Tidak duduk di bangku yang sama. Dan mereka duduk di bagian dalam. Bukan di tepi jendela.

Dua tempat kosong yang tersisa tadi, sebenarnya hanya satu, karena yang satu lagi sudah diduduki tas salah satu gadis tadi. Tempat yang tersisa hanya adalah bangku yang menghadap berlawanan dengan arah perjalanan kereta. Kurang sreg sebenarnya. Tapi apa mau dikata karena itu satu-stunya tempat duduk yang tersedia. Tanpa membuang waktu lama, aku langsung masuk dan duduk.

Lantunan symphony Four Season Winter I  Allegro Non Molto aku perbesar. Aku mengalihkan pandangan dan perhatianku dengan membaca salah satu buku yang sudah kupersiapkan sejak tadi malam. Inilah Islam, judul buku tersebut. Salah satu karya besar Sayyid Qutb, ulama besar abad 20 yang menuntaskan bhakti pada agamanya di tiang gantungan pada tahun 1969. Hal ini aku lakukan agar tidak terjadi kontak dengan dua gadis tadi. Canggung. Mungkin juga.

Ketika lantunan symphony winter II Largo baru dimulai, ada seorang lak-laki berumur tiga puluh tahunan menghampiri bangku tempatku dan dua gadis itu duduk. Tingginya rata-rata untuk seorang manusia Indonesia. Badannya yang kekar, padat berisi, semakin ditunjukkan dengan kaus warna hitamnya yang kecil, menunjukkan lekuk badannya. Sangar. Itu kesan yang pertama. Sama seperti aku yang datang kesiangan ke stasiun. Namun dia lebih kurang beruntung. Karena dia masih mencari tempat duduk ketia kereta sudah berjalan jauh. Padahal dia membawa serta keluarganya, seorang istri dan seorang anak perempuan yang berumur sekitar enam tahun.

Sama seperti yang aku lakukan, dia menanyakan bangku kosong yang ada di depanku. Gadis yang duduk searah perjalan kereta itu menjawab dengan halus, bahwa tempat tersebut sudah ada yang akan menempati. Temannya akan menempatinya karena temannya itu naik dari stasiun gumilir. Ya, di kotaku ini, ada dua stasiun kereta api. Stasiun Cilacap Kota, terletak dua kilometer sebelah selatan pusat kota, alun-alun, masjid, pendopo kabupaten, dan penjara. Tipikal pusat kota peninggalan zaman kolonial. Satu lagi Stasiun Gumilir, terletak lima kilometer arah timur menuju luar kota. Sebenarnya ada satu stasiun lagi, Stasiun Karangkandri namanya. Stasiun ini berada lima belas kilometer setelah stasiun Gumilir. Sepuluh tahun yang lalu, stasiun ini terletak di luar kota. Karena pengembangan wilayah, batas kota digeser keluar sejauh lima kilometer. Stasiun karang kandri yang dulunya berada di luar kota, sekarag berada dalam batas kota. Namun stasiun ini jarang disinggahi karena tidak banyak penumpang yang naik ataupun turun di stasiun ini.

Baru berselang satu menit, gadis yang duduk di sebelahku mengawali pembicaraan. Pembicaraan dengan temannya tentunya. Dia menanyakan kehadirannya pada reuni farisi beberapa waktu yang lalu. Gadis yang duduk didepannya menjawab tidak. Dia sedang mengikuti acara silaturahmi keluarganya. Ketika kata itu disebut, aku langsung menoleh, melihat ke arah mereka berdua. FARISI? Mereka menyabut kata itu. Seketika langsung terpikir olehku, bahwa mereka adalah alumni SMA 1 Cilacap, tempat aku menghabiskan masa tiga tahun berseragam putih abu-abu. FARISI itu adalah singkatan dari Forum Alumni Pelajar Islam SMA 1 Cilacap. Ini adalah organisasi nonformal yang didirikan para alumni SMA 1 Cilacap yang prihatin dengan aktifitas para alumninya. Biasanya, mereka yang lulus langsung lepas begitu saja. Sibuk dengan dunianya masing-masing. Yang kuliah, bekerja, mencari masalah, ataupun yang hanya menjadi pegawai P&K –pengangguran dan keluyuran- ataupun yang menjadi Pengacara –pengangguran banyak acara-. Agar tetap menjaga tali silaturahmi dan komunikasi antaralumni, maka didirikanlah forum ini. Para pemrakarsanya adalah mereka yang dulunya aktif dan tergabung dalam organisasi kerohanian Islam di sekolah, Remaja Islam Masjid AlKautsar. Seiring berjalannya waktu, forum ini membuka pintunya kepada semua alumni SMA 1 Cilacap yang beragama Islam. Tidak hanya bagi mereka yang pernah menjadi aktifis masjid. Salah satu agenda rutinnya adalah silaturahmi yang diadakan pada bulan syawwal setiap tahunnya.

Aku langsung bertanya pada dua gadis itu, mengornfirmasi apakah dugaanku benar, bahwa mereka adalah alumni dari almamater yang sama denganku. Gadis yang duduk di depanku membenarkan dugaanku. Mereka baru lulus tahun  ini. Gadis yang duduk sebelahku membalikkan pertanyaan itu kepadaku. Aku mengiyakannya.

Gadis di depannya tiba-tiba bertanya, ”lho, Mas Faaz ya?”

—–bersambung—–

KLAKSON KENDARAAN BERMOTOR & TOLERANSI PENGENDARA

Oleh: Fahdi Faaz

Pemerhati Arsitektur Kota

Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

 

Ketika lampu di perempatan baru menyala hijau, belum ada tiga detik, kita acap kali mendengar bunyi klakson dari kendaraan di samping, ataupun di depan atau belakang kita. Atau barangkali kita sendiri yang juga ikut membunyikannya. Bunyi klakson yang dimaksudkan agar pengendara di depannya segera menancap gas dan segera berlalu. Sehingga kendaraan yang lain yang ada di belakangnya pun dapat segera mengikuti.

Kejadian semacam itu dapat kita jumpai hampir di semua persimpangan jalan. Bahkan di tempat lain, yang bukan persimpangan jalan pun, sering kita jumpai hal yang serupa. Taruhlah misalnya ada sebuah mobil yang hendak parkir di tepi jalan. Karena ruangnya sempit, otomatis mobil tersebut akan berhenti sejenak untuk mengatur badannya agar dapat diparkir dengan mudah. Ketika mobil tersebut baru berhenti beberapa detik saja, disusul dengan antrian kendaraan di belakangnya, yang berakhir dengan bunyi klakson yang bertalu-talu. Berbeda tetapi serupa. Sama-sama membunyikan klakson untuk mempercepat gerak apapun atau siapapun yang ada di depannya.

Apakah dengan membunyikan klakson itu dapat mempercepat pekerjaan sang juru mudi? Tentu tidak. Justru boleh jadi dengan adanya suara klakson tersebut malah bisa memperkeruh suasana. Apalagi jika terjadi pada jam-jam sibuk, dan sang juru mudi adalah tipe orang yang temperamental. Penggunaan klakson memang pada dasarnya untuk memberi tanda atau peringatan. Namun mengingat suaranya yang tidak semerdu dering suara handphone ataupun bel pintu rumah, hendaknya kita juga sadar dengan konsekuensinya. Dalam keadaan yang panas, penat, dan lelah, ditambah pada jam-jam sibuk dimana tingkat stress orang biasanya sedang memuncak, suara klakson yang dibunyikan malah bisa menambah suasana menjadi lebih buruk.

Yang perlu kita perhatikan adalah, ketika berada di lampu merah, ataupun ketika ada mobil atau kendaraan lain yang mengganggu arus lalu lintas, hendaknya kita bia memberi toleransi. Boleh jadi pada saat lampu menyala hijau, sedangkan yang berada di barisan depan tidak segera bergerak, dimungkinkan ada masalah dengan kendaraannya. Begitu pula pada saat ada kendaraan yang memotong arus lalu lintas, mereka pun mengetahui resiko yang akan terjadi ketika memotong jalan. Boleh jadi saat sang juru mudi memotong jalan, dia sedang dalam keadaan yang kurang enak. Maka, jangan sampai kita memperburuk keadaanya dengan membunyikan klakson yang suaranya tidak merdu itu.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Jika dari hal yang kecil ini kita perhatikan dan kita tanggapi, maka harapan Kota Yogyakarta yang pluralis dan multikultural ini menjadi City of Tolerance dapat terwujud.

TROTOAR & PERMASALAHANNYA

November 13, 2007

TROTOAR & PERMASALAHANNYA

Oleh: Fahdi Faaz

Pemerhati Arsitektur Kota

Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Kapan terakhir kali kita berjalan di trotoar? Barangkali sebagian dari kita akan menjawab, ”Oh, itu bertahun-tahun yang lalu!”. Bahkan boleh jadi ada yang menjawab tidak pernah sama sekali. Dengan berbagai alasan, baik itu karena kesibukan, trotoar yang tidak nyaman, adanya moda transportasi yang lain dan sebagainya.

Trotoar bisa meruakan area pemisah dan pembatas antara jalan dengan halaman atau bangunan. Trotoar dapat mudah dijumpai di sepanjang jalan di dalam kota. Sedikit sekali bahkan jarang ada trotoar yang ada di sepanjang jalan di luar kota. Umumnya di bawah trotoar adalah saluran air buangan kota (riol). Air kotor dan air buangan baik dari jalan maupun dari rumah, selain dibuang di sumur peresapan, ada pula yang disalurkan ke riol. Ukuran lebar trotoar bervariasi antara 1,5 m hingga 3 m. Dalam istilah bahasa Inggris, trotoar berarti sidewalk yang dimaksudkan sebagai tempat untuk berjalan kaki yang berada di samping jalan umum.

Idealnya, sebagai salah satu tempat untuk beraktifitas, maka pengguna trotoar harus mendapatkan kenyamanan. Namun melihat sedikitnya pengguna trotoar (pejalan kaki), bisa dipastikan ada yang tidak sesuai. Dari pengamatan yang pernah saya lakukan beberapa waktu yang lalu, trotoar di Yogyakarta memiliki beberapa permasalahan. Yang pertama, kondisi trotoar seringkali rusak, bahkan ada yang jebol sehingga tidak dapat dilalui. Trotoar yang kondisinya seperti ini biasanya karena hampir tidak pernah digunakan, sehinga tidak terawat. Kondisi seperti ini dapat kita saksikan di Jalan Kaliurang di sekitar Gama Book Plaza beberapa waktu yang lalu.

Yang kedua, dengan mempertimbangkan kondisi iklim di Indonesia yang tropis, yang pada siang hari selalu mendapat sinar matahari, maka perlu adanya peneduh dari sengatan panas siang hari. Hampir di semua trotoar di kota ini tidak didapatkan adanya peneduh / pelindung sinar matahari siang hari. Kecuali di beberapa tempat misalnya di Jalan Solo, dari perempatan Gramedia ke arah barat hingga pertigaan JPM. Serta di kawasan Kotabaru. Sayangnya di Kotabaru yang trotoarnya cukup teduh, ternyata jarang ada pejalan kaki. Hal ini salah satunya karena kotabaru adalah kawasan hunian bukan komersil. Pejalan kaki akan lebih mudah ditemui di kawasan komersil.

Yang ketiga, adanya pedagang yang menggelar dagangannya di trotoar. Tidak hanya pedagang kaki lima, toko-toko yang letaknya di tepi jalan pun, seringkali memasang banner ataupun papan promosi barang atau jasanya di trotoar. Tentu hal ini sangat mengganggu akses para pejalan kaki. Masalah yang ketiga ini yang paling banyak dijumpai di trotoar manapun. Misalnya di sepanjang Malioboro, Jalan Solo dari perempatan Gramedia ke timur hingga lampu merah ujung Jalan Affandi, Jalan Affandi itu sendiri, dan Jalan Kaliurang dari perempatan Mirota Kampus hingga perempatan Kentungan.

Lantas bagaimana mengatasinya? Untuk peneduh, langkah yang diambil pemerintah kota dengan memasang kanopi yang nantinya ditubuhi tanaman hijau di trotoar utara Tugu Adipura hingga Kotabaru, cukup baik. Yang lebih baik lagi adalah adanya pohon-pohon dengan kanopi besar yang mampu menaungi pejalan kaki seperti di Kotabaru. Selain sebagai peneduh, akar pohon-pohon ini juga mampu menyimpan cadangan air di dalam tanah. Sehinga ketika musim kemarau, cadangan air tanah masih ada, dan kita tidak mengalami kekeringan.

Bagaimana dengan pedagang? Yang penting tetap memberi kemudahan akses bagi para pejalan kaki untuk dapat leluasa berjalan di trotoar tersebut, dan tetap menjaga agar trotoarnya tetap baik dan bersih. Serta tidak menjadi tempat timbunan sampah, mengingat ada saluran air kota yang ada di bawahnya. Sedangkan terhadap trotoar yang jarang digunakan, apakah sebaiknya trotoarnya ditiadakan sekalian? Tidak. Akan lebih baik jika di sepanjang trotoar itu dipasang pot-pot yang kemudian ditanami tanaman-tanaman hijau. Selain menyejukan pandangan, sebatang tanaman hijau saja mampu menyerap satu ton karbon dioksida selama masa hidupnya. Apalagi jika deretan tanaman hijau di sepanjang jalan. Nah!

 

Aku berdiri dan melepaskan kacu merah putih yang melingkar di leherku. Kemudian aku memasangkan kacu Pramuka yang terbuat dari bahan satin itu yang kubawa khusus dari cilacap kepada Vice Chairman of Júnak. Beliau tersenyum. Di antara kerutan-kerutan kulit di wajahnya, mengembang sebuah senyum. Senyum kebahagiaan. Senyum kebanggaan. Beliau adalah pejabat tertinggi kedua di Júnak. Apa itu Júnak? Júnak adalah organisasi kepanduan Republik Ceko. Berarti kalau di Negara kita, beliau dalah wakil Ketua Kwartir Nasional. Bagaimana aku bisa sampai ke sana? Ceritanya cukup panjang.

Hari keenam belas bulan kesembilan tahun ketiga di milenium ketiga

Angin bertiup lembut. Cuaca tidak terlalu panas. Lanit biru sangat cerah. Aku baru saja menyelesaikan sholat ’ashar di masjid sekolah. Seorang teman sekelasku sudah menunggu di depan teras masjid. Kami berencana untuk mensurvey harga dasi untuk seragam sekolah. Seragam baru ceritanya. Banyak suara dari siswa yang ingin mengenakan dasi sebagai pelengkap seragam putih abu-abunya. Biar kelihatan lebih keren, katanya. Karena belum pernah ada sebelumnya, maka masing-masing kelas berinisiatif untuk mencari atau membuatnya sendiri. Sekolah belum mau mengurusnya, karena tidak dianggarkan sebelumnya.

Saat aku sedang mengenakan kaus kaki, Bu Umi datang mencariku. Bu Umi adalah pegawai bagian tata usaha sekolah. Beliau baru saja mendapat berita dari pendopo kabupaten, yang meminta agar aku segera menuju ke pendopo kabupaten. Ada seleksi pertukaran pelajar ke Ceko katanya. Lho, ada apa gerangan. Tiba-tiba aku mendapat berita panggilan seperti itu. Bu Umi terlihat sangat tergesa-gesa ketika menyampaikan berita itu. Sepertinya sangat penting. Akhirnya aku membatalkan rencanaku untuk pergi survey. Dan temanku pun paham.

Aku segera menuju ruang wakil kepala sekolah untuk menanyakan informasi yang lebih jelas. Aku bertemu dengan Pak Bangun. Ini nama asli lho. Lengkapnya Drs Bangun. Beliau adalah guru biologi yang merangkap sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Rambut putihnya mulai mengambil alih dominasi rambut hitam yang tumbuh di kepalanya. Dia terlihat lebih tua dari umur sebenarnya. Di hidungnya bertenger kaca mata berlensa bulat yang miring ke kiri. Miringnya ini arena dia lebih lebih sering membetulkan kacamatanya dari sebelah kanan jika melorot.

Tanpa banyak basa-basi, aku langsung menanyakan berita yang tadi kudengar dari Bu Umi. Dia memaparkan versi lengapnya. Sekitar pukul 15.00, telepon sekolah berdering. Dari ujung telepon, ternyata suara Pak Anang. Dia adalah guru bahasa Indonesia sekaligus pembina pramuka di sekolahku. Pak Anang meminta agar aku dan Eling segera menuju ke Graha Darussalam untuk mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke luar negri. Kebetulan saat itu aku masih ada di sekolah jadi dapat segera dihubungi. Akan tetapi Eling sudah pulang. Akhirnya Bu Umi harus menelpon ke rumahnya untuk mengabarkan berita tersebut.

Aku menunggu Eling sambil berbincang dengan Pak Bangun. Tidak terbesit dalam pikiranku maupun Pak Bangun bahwa nanti dua orang mudirnya akan berangkat keluar negri. Kami membahas kemungkinan terburuk jika kami tidak dapat berangkat karena kami sudah kelas tiga. Tahun terakhir di sekolah. Aku mengusulkan calon pengganti jika nanti aku tidak dapat berangkat. Demikian pula calon pengganti Eling. Yang ada di pikiranku saat itu adalah bahwa ini adalah seleksi. Ada kemungkinan tidak lolos. Sebisa mungkin aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku. Perkara hasilnya aku serahkan sepenuhnya pada Yang Maha Berkehendak.

Aku menunggu sampai lima belas menit, ternyata Eling tidak datang juga. Akhirnya aku mengambil inisiatif untuk berangkat sendiri tanpa menunggu Eling. Biar nanti Eling menyusul langsung ke Graha Darussalam. Tanpa membuang banyak waktu, aku segera mengayuh sepeda balapku dengan kecepatan semaksimal mungkin. Graha Darussalam ini terletak di satu kompleks dengan Masjid Agung Darussalam. Dari sekolahku berjarak sekitar dua kilometer. Sepanjang perjalanan aku berusaha tetap menenangkan pikiran meskipun badanku tidak tenang. Menenangkan pikiran untuk mempersiapkan diri menghadapai seleksi pertukaran pelajar itu. Sejak kecil, aku bermimpi bisa mengikuti pertukaran pelajar. Dan sekarang kesempatan itu ada di depan mata. Aku harus menampilkan yang terbaik. Aku harus berusaha semaksimal mungkin. Mencurahkan segala daya dan upaya untuk hasil yang optimal.Yang terbayang sepanjang perjalananku adalah suasana tes seleksi yang melibatkan puluhan siswa berprestasi sekabupaten cilacap. Yah, minimal satu kota lah.

Setelah bersepeda dengan peluh sebesar biji jagung, akhirnya aku sampai. Aku memasuki halaman kompleks masjid dengan menuntun sepedaku. Suasana di sekitar gedung masih ramai. Baik di halaman maupun di dalam gedung itu sendiri. Sebagian besar mengenakan seragam Pramuka. Aku mengenal sebagian kecil dari mereka. Seagian kecil itu adalah para panitia penyelenggara. Ya panitianya memang teman-temanku. Ada teman satu sekolah. Ada teman sesama pramuka. Ya, Graha Darussalam ni baru saja selesai digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Musyawarah Daerah Pramuka Kwartir Daerah XI Jawa Tengah. Para petinggi dan penggiat Pramuka dari seluruh kabupaten di Jawa Tengah berkumpul di gedung ini. Membahas perkembangan Gerakan Pramuka dan tantangannya di masa akan datang. Termasuk pemilihan para pengurus baru untuk lima tahun mendatang.

Dengan nafas masih tersenggal-sengal, aku segera memarkir sepedaku dan segera duduk di teras. Meskipun sudah terbiasa bersepeda, tetapi jika harus ngebut, energi cepat habis juga. Dengan hati-hati aku duduk dan meluruskan kedua kakiku. Salah seorang panitia memberi segelas air mineral untuk kuminum. Tida sampai dua menit, air sebanyak 200ml itu langsung habis. Dia mengambilkannya lagi untukku. Baru separuh terminum, aku terkejut dengan kedatangan sesorang yang tiba-tiba berada di sampingku. Ternyata Eling.

Ketika bu Umi menghubunginya, dia baru menginjakkan kaki di rumahnya sekitar tiga menit. Setelah membersihkan diri, dia langsung meluncur ke graha darussalam. Dia tidak ke sekolah dulu karena info yang sampai kepdanya menyebutkan agar dia segera ke graha darussalam. Dia tidak tahu kalu aku sudah menungggunya cukup lama di sekolah.

Setelah nafasku kembali normal, seorang laki-laki mengampiriku. Badannya tegap, atletis. Tingginya sedang. Kulitnya putih. Namun tidak seputih para artis di iklan televisi itu. Terlihat bahwa dia sering menjaga kebugaran tubuhnya. Dia menanyakan identitasku secara singkat. Dia menanyakan prestasi yang pernah kuperoleh selama ini. Dia juga menanyakan apakah aku bisa berbahasa inggris. Ya cukupan lah. Begitu jawabku. Lantas aku memberanikan diri untuk bertanya mengenai seleksinya. Karena saat itu tidak ada orang lain selain panitia dan aku serta Eling. Jawaban yang kudapat membuyarkan semua apa yang ada di piranku sejak tadi. Dia dengan cepat menjawab, ”mimpi apa kamu tadi malam? Tidak ada seleksi. Kamu berdua langsung berangkat! Selamat!”. Orang itu langsung menjabat tanganku. Kemudian semua orang yang ada di sana yang berjumlah sekitar sepuluh orang langsung mengkuti menjabat tanganku dan Eling.

Aku masih tidak percaya ketika dia mengucapkan kata-kata itu. Tidak ada seleksi, kamu berdua langsung berangkat ke Ceko. Ceko, Cekoslovakia, komunis, Eropa, pecahan Uni Sovyet. Itulah kosa kata yang terlintas di benakku ketika mendengar kata Ceko. Aku tidak tahu banyak tentang negara ini. Yang kutahu negara ini berada di Eropa. Salah satu negara pecahan Uni Sovyet. Dan apakah satu negara dengan Slovakia atau terpisah. Aku tidak tahu.

Setelah semua orang yang hdir menjabat tanganku, aku mulai percaya bahwa aku memang akan berngkat ke luar negeri. Mengikuti pertukaran pelajar. Impianku semasa kecil ada di depan mataku. Namun aku masih penasaran bagaimana kronologis ceritanya sampai aku terpilih. Pak Anang menceritakan kejadianya dengan runtut. Musda ini beru pertama kali diadakan di cilacap. Semua delegasi merasa puas dengan penyelenggaraan musda ini. Mulai dari penginapan, transportasi, tempat pertemuan, konsumsi, dan wisatanya. Sebagian besar delegasi awalnya under estimate terhadap penyelenggaraan acara ini. Namun yang didapat justru lebih dari apa yang dibayangkan. Semua kontingen memberikan acungan dua jempol atas kesuksesan penyelengaraan agenda besar lima taunan ini. Termasuk Gubernur Jateng H Mardiyanto sendiri. Menurutnya, sepanjang kunjungan ke Cilacap, baru saat itu dia merasa sangat gembira dan dapat tertawa lepas. Mungkin beliau sangat puas melihat kesuksesan acara ini.

Sebagai hadiahnya, Pak Gub, yang juga ketua Mabida, memberikan doorprize bagi Pramuka cilacap. Doorprizenya adalah dua tiket untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Republik Ceko. Syaratnya, nama dua orang itu harus sudah sampai di semarang malam harinya. Beliau menyampaikan hal itu pada saat penutupan Musda sekitar pukul 14.00.

Kwartir Cabang Cilacap mendapat kehormatan untuk mencarikan orang yang sesuai. Kak Suwarto, Sektretaris Kwarcab Cilacap memberi mandat kepada Dewan Kerca Cabang. Alternatif pertama adalah siswa teladan kabupaten. Dari data di depdikbud, muncul namaku dan Febriana, siswi SMA Yos Sudarso. Namun Pak Anang keberatan dengan pilihan tersebut. Alasannya karena ini adalah gaweannya Pramuka, maka harus dicari yang aktifis pramuka. Owi, temanku di sma, langsung mengusulkan namaku. Dengan pertimbangan aku juga aktifis pramuka. Satu tiket sudah ditangan. Masih ada satu tiket lagi. Pak anang mengusulkan nama Eling. Dia memiliki prestasi yang membanggakan. Terutama dalam bahasa inggris. Dia ini best speaker dalam debat bahasa inggris se karesidenan banyumas. Dia juga aktifis Pramuka, meskipun tidak begitu aktif. Akan kuceritakan lebih banyak tentang Eling nanti.

Aku sagat takjub mendengar penjelasan itu. Semuanya mengalir dengan lancarnya. Dan itu semua terjadi dalam waktu kurang dari tiga jam hingga kami hadir. Tidak berlama-lama dengan rasa takjub kami, Pak Anang menyadarkanku untuk segera berdiri. Mengajak aku dan eling menuju sebuah bangunan yang terletak lima puluh meter di barat graha darussalam. Bangunan ini adalah sebuah rumah berukuran sedang yang digunakan sebagai basecamp panitia penyelenggara musda. Kami datang kesini untuk menyiapkan segala berkas-berkas yag dierlukan. Kami tidak mau kesempatan ini hilang begitu saja. Mengingat pesan yang disampaikan Pak Gub siang tadi, bahwa nama calon yang terpilih harus sudah ada di semarang malam itu juga. Ketika kaki kananku baru melangkah melewati keset pintu, orang-orang yang ada di dalam ruangan menyambut kami dengan tepuk tangan yang meriah. Seraya menjulurkan tangan menjabat tanganku dan Eling bergatian. Mereka mengucapkan selamat atas terpilihnya kami untuk mengikuti pertukaran pelajar ini.

Aku dan eling diminta untuk membuat curriculum vitae. Curriculum vitae. Apa itu? Semacam obat tradisionalkah? Atau semacam umbi-umbian sebangsa dengan Curcuma sp.? Istilah itu terdengar asing di telingaku. Aku nekat bertanya pada eling, apa arti si curcuma itu. Ternyata itu semacam biodata diri. Suatu tulisan yang mencantumkan identitas kita dan segala atribut yang menyertai diri kita. Terutapa prestasi yang membanggakan. Jadi curriculum vitae itu menggambarkan diri kita tanpa perlu kita hadir menjelaskan.

Tidak perlu waktu lebih dari setengah jam untuk membuat CV itu.

Tujuh belas lebih lima belas menit

Aku, Eling, Mas Untung, dan Pak Anang keluar dari rumah menuju mobil toyota kijang berpelat merah. Di samping kanan dan kiri mobil berwarna biru itu tercantum tulisan berwarna kuning. Di baris pertama bertuliskan Gerakan Pramuka. Di baris kedua tercantum Kwartir Cabang Cilacap. Mas Untung, dia Ketua Dewan Kerja Cabang Cilacap, mengatakan bahwa kita akan menuju rumah Kak Suwarto. Beliau adalah Sekretaris Kwartir Cabang Cilacap, yang diberi mandat dari Kwarcab untuk mengurus seleksi ini. Baru nanti malamnya kami akan menghadap bupati cilacap.

Kami memasuki sebuah rumah dengan nuansa Jepang yang sangat kental. Mulai dari facade yang bermain bidang geometris, ketinggian langit-langit yang rendah, ditambah dengan elemen partisi ruangan yang sangat mirip dengan pintu geser rumah tradisional Jepang. Di ruang tamu yang berukuran lebar sekitar tiga meter dan panajang lima meter, kami menunggu sang pemilik rumah.

Tidak berpa lama, munculah dari balik partisi bergaya Jepang tadi, sesosok laki-laki yang berumur sekitar lima puluh lima tahun. Orangnya tidak begitu tinggi. Badannya bulat. Terutama di bagian depan. Tipikal bentuk tubuh para birokrat senior. Setelah kami menjabat tangannya bergantian, mas Untung mengawali pembicaraan.

”kak Warto, ” sapa mas Untung kepada bapak tadi. Meskipun tidak berseragam pramuka, sapaan ala pramuka tetap digunakan sebagai bentuk penghormatan.

”menindaklanjuti amanat Kak Mabida tadi siang saat penutupan Musda, kami telah memilih dua orang wakil pramuka cilacap. Ini faaz dan ini eling, ” ujarnya sambil menunjuk ke arahku dan Eling.

”silakan kakak menguji mereka sendiri,” lanjutnya.

OK, lets start it! Tell me about your selves!”, ujar kak warto sambil melihatku dan bergatian melihat ke arah eling. Kami menceritakan tentang diri kami sedikit dalam bahasa inggris. Wah, lama tidak ngomong pakai bahasa inggris, repot juga nih! Pikirku beberapa kali. Namun dari pikiran itu ternyata berdampak ke organ yang lain. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku coba menenangkan diri. Kata-kataku keluar dengan lancar, meskipun jantungku masih berdegup kencang. Aku merasakan hal yang berbeda. Padahal empat bulan sebelumnya pun aku baru diwawancara dengan bahasa Inggris saat mengkuti seleksi Lomba Siswa Teladan tingkat Kabupaten. Perasaan senang, takut, gembira, was-was, tercampur jadi satu.

“jika aku bupati cilacap, kalian sudah aku anggap lulus!”, tiba-tiba Kak Warto menimpali. Kami berlima langsung tertawa. Betapa senang dan bangga hatiku. Detak jantungku yang sempat berdetak hingga seratus dua puluh detakan per menit berangsur kembali normal. Beliau mengucapkan kata-kata itu setelah mendengar kami memperkenalkan diri dan membaca CV kami. Itu artinya kami sudah mendapat rekomendasi.

Sembilan belas lewat empat puluh menit

Yup. Satu pintu menuju dunia luar sudah terbuka. Kami masih harus bertemu dengan orang nomor satu di kabupaten, bupati. Kami menuju rumah dinas bupati di kompleks pendopo kabupaten setelah makan malam. Kami harus menunggu sekitar tiga puluh menit karena pak bup masih berada di perjalanan. Kami menunggu di ruang tamu rumah dinas yang letaknya di belakang. Ruang tamu ini cukup luas. Berukuran sekitar empat meter kali empat meter. Satu set kursi sudut menjadi persinggahan kami. Ada sedikit rasa lelah hinggap di pikiran. Namun perjuangan belum usai. Kami belum mendapat acc dari penguasa kabupaten ini.

Dua puluh menit kemudian, seorang laki-laki berbadan sedang, muncul dari dalam. Dia mengenakan baju batik warna coklat bermotif ukiran. Aku pernah bertemu orang ini sebelumnya, sehingga aku tidak merasa asing. Beliau masuk didampingi ajudannya. Meihat kami berdua yang masih mengenakan seragam pramuka lengkap, beliau tersenyum. Kami bergantian menjabat tangan beliau. Mungkin beliau lupa dengan aku. Yang pertama kali ingat malah ajudannya. Mas Ali, itu namanya. Dia mengingatkan pak Bup bahwa aku ikut Gada Bercahaya. Sebuah program rutin tahunan dari pemerintah kabupaten untuk siswa berprestasi di kabupaten cilacap.

Dua bulan yang lalu aku makan malam satu meja dengannya. Makan malam kenegaraan menyambut ulang tahun ke lima puluh delapan republik ini. Ketika itu semua siswa teladan se kabupaten cilacap, utusan tiap kecamatan datang. Makan malam itu dihadiri semua jajaran muspida dan para direktur perusahaan besar di cilacap. Termasuk holcim dan pertamina. Sebagai pemegang gelar siswa teladan kabupaten, aku mendapat kehormatan untuk duduk satu meja dengan bupati & istri, serta ketua KNPI kabupaten cilacap.

Mas Atik, sekretaris DKC, menggantikan mas Untung mengawali pembicaraan. Kemudian aku dan eling diminta memperkenalkan diri. Sama seperti yang dilakukan di depan Kak warto tiga jam yang lalu. Beliau memperhatikan apa yang aku dan eling ucapkan sambil sekali-sekali membaca CV yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

”besok, jika sudah lulus, tinggal minta saja akan kami buatkan nota untuk STPDN!”, ujar pak Bup. Tidak tersurat, tapi tersirat. Itu artinya beliau sudah setuju. Bahkan memberi tawaran yang menggiurkan. STPDN! Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negri. Sekolah tinggi yang sangat prestisius yang diidam-idamkan banyak orang tua. Mereka yang menginginkan anaknya menjadi pegawai negri dan mengabdi kepada kabupatennya. Saat itu belum ada berita tentang pemukulan praja STPDN yang menyebabkan kematian Wahyu Hidayat. Di STPDN ini, baru tingkat satu saja, sudah berstatus pegawai negri dengan pangkat IIC. Setelah lulus pangkatnya IIIA. Jaminan untuk ditempatkan kembali ke daerah asalnya sangat besar. Mengingat biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikannya berasal dari APBD.

Tanpa ragu-ragu, pak bup langsung meneken surat yang tadi kami persiapkan. Surat rekomendasi dari bupati cilacap yang ditujukan kepada gubernur jawa tengah. Berisi tentang rekomendasi dua nama untuk mengikuti program pertukaran tersebut. Ketika surat tersebut selesai ditandatangani, hatiku kembali lega. Pintu kedua telah terbuka.

Dua puluh lewat tiga puluh menit

Aku mengendarai sepedaku menuju rumah. Eling mengendarai sepeda motornya sejajar di sebelah kananku. Aku masih tidak percaya bahwa aku akan keluar negri. Dalam waktu kurang dari enam jam, aku mendapat kepastian bahwa aku akan mengikuti pertukaran pelajar. Keluar negri. Ke EROPA! Aku akan menempuh perjalanan ribuan kilometer. Melintasi puluhan negara dari udara. Menjelajahi atmosfer bumi. Menjlajahi ketinggian ribuan meter. Menuju suatu tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebuah negara yang selama ini hanya kuketahui dari berita koran dan televisi, serta ensiklopedi. Ceko, aku datang!

Sebelum kami berpamitan, pak Anang berpesan agar esok pagi kami izin tidak mengikuti pelajaran. Kami harus mempersiapkan diri mencari informasi sebanyak mungkin tentang negara yang kami kunjungi. Seperti apa pemerintahannya, kondisi geografinya, tatanan kehidupan sosialnya, penduduknya, mata uangnya, presidennya, sampai apa makanan khasnya. Tidak lupa karena aku dan eling terpilih atas nama pramuka, kami harus menyiapkan segala pertanyaan untuk dicari jawabannya disana.

Ketika sampai di depan rumah, bapak membuka pintu. Raut wajahnya menunjukkan hal yang kurang menyenangkan. Memang tidak seperti biasanya aku pulang sampai larut malam. Meskipun tadi sore aku sudah memberi tahu bahwa aku akan pulang larut untuk mengikuti seleksi pertukaran pelajar. Aku langsung menjabat tangan beliau, dan menciumnya. Demikian pula ibuku yang sudah menanti di ruang tamu. Aku katakan bahwa aku akan berangkat ke luar negri. Aku akan ke Republik Ceko. Masih dalam keadaan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, ibuku menyuruhku untuk membersihkan diri. Maklum sejak pagi aku belum pulang ke rumah. Bahkan ketika menghadap pak Bup pun aku belum mandi. Pakaian yang kupakai sudah dua hari.

Aku berbegas menuju kamarku yang terletak di sebelah ruang makan. Di kamar sempit ini, yang hanya berukuran dua meter lebar dan panjang tiga meter, aku bertempur untuk ujian. Awalnya bukan sebuah kamar. Dahulu digunakan sebagai dapur. Oleh karena itu ada meja beton yang di bawahnya digunakan sebagai lemari penyimpanan. Karena aku membutuhkan ketenangan dan konsentrasi menjelang ujian, akhirnya ruangan itu disekat. Sempit memang. Tapi cukup nyaman untuk sekadar tidur dan belajar.

Aku letakkan tas biru besarku di meja. Dari cermin panjang di depanku kulihat bayangan kakak pertamaku. Aku segera berbalik. Aku katakan bahwa aku akan pergi keluar negri. Republik Ceko. Dalam waktu dua minggu ini aku akan berangkat. Seluruh penghuni di rumahku tidak ada yang langsung percaya kalau aku akan keluar negri. Sampai kemudian setelah aku membersihkan diri dan mengerjakan sholat ’isya, aku ceritakan kronologis kejadiannya. Mulai dari ketika mendapat panggilan di sekolah, hingga bertemu bupati yang kemudian memberi janji itu.

bersambung

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.